Header Ads Widget

Responsive Advertisement

5 Saham IDX dengan PBV Terendah di Juni 2026: Screening Gaya Warren Buffett

Bursa Efek Indonesia (IDX) saat ini memiliki ratusan saham yang diperdagangkan setiap harinya. Namun, tidak semua saham memiliki valuasi yang menarik bagi investor jangka panjang. Salah satu metrik yang sering digunakan oleh legenda investor Warren Buffett adalah Price-to-Book Value (PBV) — rasio yang membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku perusahaan.

Bursa Efek Indonesia saham trading

PBV di bawah 1.0x artinya saham diperdagangkan di bawah nilai buku aset bersih perusahaan — seolah-olah kamu membeli aset Rp 1.000 dengan harga Rp 800. Tentu saja, PBV rendah saja tidak cukup. Kita perlu memadukannya dengan Return on Equity (ROE) untuk memastikan perusahaan tetap profitabel dan efektif dalam menggunakan ekuitasnya.

Apa Itu PBV dan ROE?

Price-to-Book Value (PBV)

PBV = Harga Saham / Nilai Buku per Saham (BVPS). Rasio ini menunjukkan seberapa mahal atau murah harga saham relatif terhadap aset bersih perusahaan. PBV < 1.0x sering dianggap undervalued, tapi harus dianalisis lebih lanjut apakah karena fundamental yang memang lemah atau karena sentimen pasar yang berlebihan.

Return on Equity (ROE)

ROE = Laba Bersih / Total Ekuitas x 100%. Rasio ini mengukur seberapa efisien perusahaan menghasilkan profit dari modal yang dimiliki pemegang saham. ROE di atas 15% umumnya dianggap baik, sementara ROE di bawah 5% bisa jadi sinyal perusahaan kurang efisien.

Screening Saham: Kombinasi PBV Rendah + ROE Tinggi

Dengan menggunakan prinsip value investing ala Graham-Buffett, berikut kriteria screening yang kita gunakan:

  • PBV di bawah 1.5x (undervalued)
  • ROE di atas 10% (profitabel)
  • Kapitalisasi pasar di atas Rp 1 triliun (likuid)
  • Perusahaan listing lebih dari 5 tahun (teruji)

5 Saham Hasil Screening Juni 2026

1. Bank BBRI (Bank Rakyat Indonesia)

BBRI konsisten menjadi salah satu bank paling profitabel di Indonesia. Dengan PBV yang masih wajar dan ROE di atas 15%, BBRI tetap menjadi pilihan utama investor ritel dan institusi. Dominasi di segmen mikro dan UMKM memberikan stabilitas pendapatan yang sulit ditandingi kompetitor.

2. Bank BBNI (Bank Negara Indonesia)

BBNI sedang dalam fase transformasi digital yang agresif. PBV yang kompetitif ditambah ROE yang membuatnya menarik bagi investor yang mencari exposure di sektor perbankan dengan valuasi tidak terlalu mahal.

3. PT Aneka Tambang (ANTM)

ANTM sebagai salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia mendapat sentimen positif dari tren kendaraan listrik. Fluktuasi harga komoditas memang menjadi risiko utama, tapi posisi biaya rendah dan cadangan yang besar memberikan margin of safety.

4. PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP)

INTP di sektor semen menghadapi tantangan dari overcapacity, tapi valuasi yang sudah sangat murah (PBV rendah) bisa menjadi opportunity bagi investor yang sabar. ROE yang masih positif menunjukkan perusahaan tetap mampu menghasilkan profit.

5. PT XL Axiata (EXCL)

EXCL di sektor telekomunikasi menghadapi persaingan ketat, tapi konsolidasi industri dan pertumbuhan data memberikan prospek jangka panjang. Valuasi yang murah bisa menjadi entry point bagi investor contrarian.

Risiko yang Perlu Diperhatikan

Screening PBV rendah + ROE tinggi bukan jaminan keuntungan. Beberapa risiko yang perlu diwaspadai:

  • Value trap: Saham murah karena fundamental memang memburuk, bukan karena pasar salah harga
  • Siklus industri: Seperti komoditas dan properti yang bersifat siklikal
  • Perubahan regulasi: Kebijakan pemerintah bisa berdampak signifikan pada profitabilitas
  • Likuiditas: Saham dengan kapitalisasi kecil mungkin sulit dijual dalam jumlah besar

FAQ

Apakah saham PBV rendah selalu bagus?

Tidak selalu. PBV rendah bisa jadi value trap jika perusahaan sedang mengalami penurunan fundamental. Selalu padukan dengan analisis ROE, arus kas, dan prospek industri.

Berapa PBV ideal untuk saham Indonesia?

Tidak ada angka pasti. Untuk perbankan, PBV 1.0-2.5x masih dianggap wajar. Untuk sektor lain, tergantung karakteristik industri dan growth prospect.

Apakah screening ini cocok untuk trading jangka pendek?

Tidak. Screening PBV + ROE lebih cocok untuk investasi jangka panjang (1-4 minggu hingga beberapa bulan). Untuk trading jangka pendek, analisis teknikal lebih relevan.

Di mana bisa cek data PBV dan ROE saham Indonesia?

Bisa cek di website IDX (idx.co.id), RTI Business, Ajaib, atau Stockbit. Data fundamental biasanya tersedia di bagian laporan keuangan masing-masing emiten.

Apa bedanya PBV dan PER?

PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku aset, sementara PER (Price-to-Earnings Ratio) membandingkan dengan laba per saham. PBV lebih stabil karena nilai buku tidak fluktuatif seperti laba.

Kesimpulan

Screening saham dengan kombinasi PBV rendah dan ROE tinggi adalah pendekatan value investing yang teruji waktu. Namun, selalu lakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Jangan hanya mengandalkan satu metrik saja — padukan dengan analisis industri, manajemen, dan kondisi makro ekonomi.

Untuk update screening saham terbaru, pantau terus blog ini dan subscribe newsletter kami.

Posting Komentar

0 Komentar

🔍 Search